Karhutla Memanas, Pernyataan Gubernur Kaltara Disebut Paling Waras

  • Bagikan

CATATAN, KALTARA – Pernyataan sejumlah gubernur di Kalimantan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuai beragam reaksi publik. Di tengah kritik terhadap respons kepala daerah dalam menghadapi kebakaran dan kabut asap, pernyataan Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Zainal Arifin Paliwang, justru mendapat perhatian positif dari warganet.

Salah satu komentar di media sosial bahkan menyebut pernyataan Gubernur Kaltara sebagai yang paling masuk akal dibandingkan kepala daerah lainnya. Respons tersebut muncul setelah Zainal secara terbuka menjelaskan kendala pemadaman karhutla, mulai dari karakteristik lahan gambut hingga keterbatasan peralatan.

banner 728x90

Alih-alih menjanjikan kebakaran segera teratasi, Zainal mengakui bahwa pemadaman di lahan gambut bukan perkara mudah. Api yang terlihat padam di permukaan masih berpotensi menyala kembali karena bara dapat bertahan di dalam lapisan tanah.

“Di atas itu dia padam, tetapi di dalam gambutnya kita tidak bisa pantau. Memang ada yang sudah padam, tiba-tiba muncul lagi. Karena itu gambut, susah diprediksi,” ujar Zainal, Jumat (16/10/2026).

Ia juga mengakui keterbatasan fasilitas daerah, termasuk belum tersedianya helikopter water bombing milik sendiri serta tingginya biaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Namun, keterbatasan tersebut, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melakukan penanganan.

“Kalau dibilang peralatan, pasti ada kurang. Tetapi dengan kekurangan itu jangan diam. Kita gunakan alat-alat yang kita miliki saja,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian warganet. Keterbukaan dalam menyampaikan kendala dinilai lebih realistis dibandingkan memberikan pernyataan yang tidak mencerminkan kondisi di lapangan.

Di Kaltara, penanganan karhutla juga dilakukan melalui pemantauan langsung ke sejumlah titik kebakaran. Zainal beberapa kali turun ke lokasi, termasuk kawasan Selimau dan KM 12 Desa Gunung Sari, Kabupaten Bulungan, untuk memantau upaya pemadaman bersama personel gabungan TNI, Polri, dan BPBD.

Ia meminta agar laporan titik api segera ditindaklanjuti dan menekankan pentingnya keselamatan petugas selama proses pemadaman.

Meski demikian, keterbukaan dalam menyampaikan kendala dan kehadiran di lokasi kebakaran bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan karhutla. Efektivitas pemadaman, pencegahan kebakaran berulang, serta perlindungan masyarakat dari dampak asap tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.

Apresiasi di media sosial terhadap pernyataan Zainal menunjukkan bahwa cara kepala daerah berkomunikasi saat menghadapi bencana turut menjadi perhatian publik. Namun, penanganan karhutla pada akhirnya tetap harus dinilai dari hasil nyata di lapangan. (ryn)

  • Bagikan