CATATAN – Sore itu, suasana religius menyelimuti balik tembok Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kelas IIB Nunukan. Ribuan tangan narapidana terangkat dengan lantunan doa berkumandsng lantang pada kegiata Tabligh Akbar.
Habib Basim Bin Ahmad Al Athos, memberikan tausiahnya, mengharapkan para narapidana tetap menyisihkan rasa syukur dalam diri.
Di tengah keterbatasan ruang dan dalam keadaan yang mereka jalani, para narapidana tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan harapan dapat diindahkannya doa-doa yang mereka panjatkan. Pesan yang disampaikan pun sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari, Tentang rasa syukur, doa, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Habib Basim mengajak para jamaah untuk tidak berhenti bersyukur atas rahmat yang diberikan Allah SWT. Ia juga mengingatkan agar doa terus dipanjatkan, baik untuk kehidupan di dunia maupun akhirat.
“Kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa rahmat Allah saat ini turun dan menumpuk di tempat kita, ditandai dengan tetap turunnya hujan di wilayah Nunukan, walaupun sebagian besar wilayah Indonesia dilanda kemarau panjang. Oleh karena itu, kita harus banyak berdoa semoga segala hajat yang diinginkan di dunia dan akhirat bisa terkabul,” ucap Habib Basim.
Hujan yang masih turun di Nunukan menjadi salah satu hal yang disinggung dalam tausiyah tersebut. Bagi Habib Basim, kondisi itu dapat menjadi pengingat untuk mensyukuri nikmat yang diterima.
Pesannya kemudian mengarah pada satu hal yang lebih luas, bagaimana manusia tetap mengingat Allah dan Rasulullah dalam menjalani kehidupannya.
“Mudah-mudahan kita semua bahagia di dunia juga di akhirat dan segala urusan kita akan dipermudah jika kita senantiasa mengingat Allah dan Rasulullah,” ujarnya.
Bagi narapidana, kegiatan keagamaan merupakan salah satu bagian dari proses pembinaan yang mereka jalani selama berada di dalam Lapas.
Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan Donny Setiawan mengatakan pembinaan terhadap napi tidak hanya berkaitan dengan keterampilan, tetapi juga menyentuh aspek mental dan spiritual.
“Pembinaan tidak hanya menyentuh aspek keterampilan, tetapi juga pembinaan mental dan spiritual. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi seluruh Warga Binaan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Sore itu, tabligh akbar ditutup dengan doa bersama. Ribuan WBP kembali larut dalam lantunan doa, sebelum rangkaian kegiatan berakhir.
Di balik tembok Lapas Nunukan, doa-doa itu menjadi bagian yang melekat sepanjang perjalanan mereka dalam menjalani masa pidana. Bukan sekadar tentang hari ini, tetapi juga tentang harapan untuk suatu saat kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.















